Saturday, May 7, 2016

Kunjungan Wapres ke UPT IB Bali

Denpasar-Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) didampingi Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam kunjungan kerjanya di Bali Jumat (6/5) sempat meninjau Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Inseminasi Buatan atau yang disebut kawin suntik Daerah Provinsi Bali terletak di Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Tabanan.

Balai Inseminasi Buatan Daerah Provinsi Bali mengembangkan Inseminasi Buatan atau sering disebut kawin suntik yang khusus dilakukan terhadap ras sapi Bali. Saat kunjungan ke "pabrik" sapi ini, JK berkesempatan melihat cara menampung mani untuk pembuahan pada sapi betina.

Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali, Putu Sumantra memaparkan pada Wapres, kawin suntik merupakan tehnik memasukkan mani atau semen ke dalam alat reproduksi sapi betina sehat untuk dapat membuahi sel telur. Caranya dengan menggunakan alat inseminasi buatan sehingga ternak betina bisa bunting. Program Inseminasi Buatan mempunyai peran yang sangat strategis dalam usaha meningkatkan kualitas dan kuantitas bibit.

"Kalau dengan cara konvensional, satu pejantan hanya bisa membuahi satu betina. Dengan teknik IB ini bisa membuahi 100 betina sekaligus. Artinya, dengan teknik kawin suntik ini ternak yang dihasilkan bisa lebih banyak," ujar Sumantra.

Selain itu, katanya, kualitasnya pun bisa dijaga karena bisa memilih kualitas semen yang akan membuahi. Pada kesempatan itu diperagakan cara menampung mani/semen dari sapi pejantan untuk kemudian diteliti kualitasnya di dalam laboratorium. "Setelah ditampung, mani tersebut akan kami cek di laboratorium, mani yang kualitasnya bagus akan kami ambil, selanjutnya kami pakai untuk pembuahan," katanya.

Selain UPT kawin suntik, Wapres JK juga melakukan kunjungan kerja ke kelompok petani Simantri 355 Gapoktan Sapta Kerta Buana di Banjar Bangli Kaja, Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Dalam kunjungan ini Wapres JK tertarik dengan produk kotoran sapi yang bisa digunakan memasak.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sapta Kerta Buana, I Wayan Runca Wijaya, 54, menjelaskan saat ini kelompoknya memelihara 23 sapi betina dan satu ekor sapi jantan. Ternak ini per harinya menghasilkan bio urine sebanyak 100 liter, biogas sebanyak dua kompor, dan pupuk organik 100 kilogram.

Dikatakan, biogas dari kotoran sapi merupakan terobosan baru, akan dicoba dimasukan ke tabung gas sehingga bisa digunakan oleh masyarakat banyak. Untuk sementara penggunaannya menggunakan saluran pipa. "Jaringan pipa yang terbatas, makanya baru dua kompor yang bisa digunakan oleh anggota simantri," ujarnya.

JK mengaku sangat tertarik dengan kotoran sapi yang bisa digunakan memasak. Meski tidak sebagus gas LPG tetapi cukup membantu perekonomin masyarakat. JK berjanji menggelontorkan dana sebesar Rp 225 juta untuk Gapoktan Sapta Kerta Buana. "Saya berharap dananya ini digunakan sebaik-baiknya untuk memajukan perekonomian petani," harap JK.

Sumber : Suara Pembaruan

BERITA-ARTIKEL LAINNYA