Monday, November 16, 2015

Impor Sapi Hidup dari Australia = 366 JUTA US DOLLAR

Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan bahwa realisasi impor sapi hidup dari Australia sepanjang Januari-Agustus 2015 mencapai 134.112 ton atau senilai US$ 366.667.978. Impor sapi hidup dari Australia yang dilakukan oleh BUMN seperti Perum Bulog tersebut dilakukan guna menciptakan stabilisasi harga dan ketersediaan daging sapi di dalam negeri.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, impor oleh Perum Bulog dilakukan melalui penugasan dari Menteri BUMN. Importasi dilakukan untuk menjamin kestabilan pasokan dan harga daging sapi. “Kami berpandangan bahwa importasi dilakukan berdasarkan kebutuhan sehingga tetap dilakukan penataan dan pengendalian impor sapi hidup dan daging sapi,” ungkap dia seperti dilansir situs resmi Kementan, Senin (16/11).

Menurut Mentan, sampai saat ini, pemerintah masih membatasi impor sapi hanya dari Australia dan Selandia Baru. Hal ini didasarkan pada kebijakan pemerintah bahwa kedua negara penghasil sapi itu sudah bebas wabah PMK (penyakit mulut dan kuku), sehingga negara penghasil sapi lainnya seperti India belum diizinkan untuk ekspor sapi ke Indonesia.

Namun, pada 2016, Pemerintah Indonesia berencana untuk memperluas kerja sama dengan negara-negara pengimpor sapi selain Australia dan Selandia Baru. Hal ini dilakukan untuk memperluas cakupan perdagangan dan negara asal impor sapi maupun daging sapi sehingga mampu menciptakan harga yang lebih kompetitif. “Selain itu akan memberikan kemudahan bagi pemerintah untuk melakukan stabilisasi pasokan dan harga daging sapi,” ujar Mentan.

BPS mencatat, impor sapi dari Australia sepanjang Januari-Agustus 2015 masih dominan sapi jantan dan bakalan sebanyak 129.075 ton atau senilai US$ 353.589.076. Kemudian impor sapi potong afkir untuk daging sebanyak 4.239 ton atau senilai USS 10.805.571. Impor sapi bibit hanya 798 ton atau senilai USS 2.273.331. Sementara itu, untuk impor daging sapi tanpa tulang (daging beku) dari Australia dan Selandia Baru sampai Agustus ini tercatat 25.461 ton atau senilai US$ 120.086.684.

Sumber : Investor Daily

BERITA-ARTIKEL LAINNYA