Saturday, October 31, 2015

Kebutuhan Tinggi, Stock Daging Sapi Menipis di Jawa Barat

TEMPO.CO, Bandung - Kepala Dinas Peternakan Jawa Barat Doddy Firman Nugraha mengaku khawatir harga daging sapi bakal bergejolak kembali karena cadangan sapi di wilayahnya kian menipis. “Perhitungan kami sampai Triwulan III masih ada cadangan, tapi masuk Triwulan IV itu cadangan mulai berkurang sekalipun ada,” kata dia di Bandung, Kamis, 22 Oktober 2015.

Doddy mengatakan, kebutuhan sapi untuk tiap Triwulan di Jawa Barat menembus 100 ribu ekor. Sementara ini belum ada kepastian pasokan sapi memasuki Triwulan IV tahun ini. Cadangan sapi yang ada saat ini berkisar 30 ribu ekor, sisa realisasi pemotongan sapi pada Triwulan III lalu.

Menurut Doddy, perhitungan Kementerian Pertanian untuk stok sapi nasional di daerah sentra sapi masih cukup. “Tapi kemarin disepakati tiap-tiap provinsi (daerah sentra) menghitung ulang stok sapinya karena khawatir ada pengikisan bibit dan indukan untuk menjaga suplay-demand,” kata dia.

Doddy mengatakan, salah satu sumber pasokan sapi yang ditunggu dari rencana importasi sapi yang hingga kini belum ada kejelasannya. Feedloter misalnya, menunggu informasi tersebut untuk memastikan kandang tidak kosong. “Tetap harus ada stok, tapi masih dalam pembahasan. Kami di daerah tidak dilibatkan,” kata dia.

Sumber pasokan konsumsi sapi Jawa Barat, mayoritas kiriman dari daerah-daerah sentra sapi. Doddy mengatakan, pemerintah pusat menjanjikan ada pengaturan distribusi untuk menjaga suplay-demand. “Ini yang kami juga tunggu,” kata Doddy.

Doddy mengatakan, stok sapi dari peternak lokal Jawa Barat hanya cukup menyangga 20 persen kebutuhan sapi setahun. Sementara tabiat peternak lokal hanya fokus membidik momen Hari Raya Kurban. “Mereka tidak mungkin dipaksa memasok pasar konsumsi, keukeuh we untuk Lebaran. Mereka saat ini sedang mencari bibit untuk digemukkan,” kata dia.

Menurut Doddy, Jawa Barat merupakan daerah konsumsi. “Kita daerah konsumen loh, yang sedikit saja ada kekurangan selalu ribut di tingkat nasional,” kata dia.

Doddy mengungkapkan, salah satu imbas ketergantungan sapi dari luar Jawa Barat, diantaranya bocornya daging impor beku ke pasar becek kendati jumlahnya tidak banyak. “Dalam aturanya itu masuk ke pasar modern untuk kebutuhan hotel, restoran,dan kantor, tidak sampai pasar becek. Tapi rembesannya sampai ke sana,” kata dia.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Fery Sofwan Arief mengatakan, kepastian pasokan itu dibutuhkan agar pelaku usaha sedikitnay punya kepastian. “Jangan sampai ini diambil jadi bahan spekulasi oleh pedagang,” kata dia saat dihubungi Tempo, Kamis, 22 Oktober 2015.

Ferry mengatakan, saat ini situsai Jawa Barat diuntungkan dengan adanya kerjasama BUMD DKI dengan perusahaan pemasok sapi di NTT misalnya, untuk memasok sapi yang dibutuhkan ibukota. “Paling tidak DKI sudah punya cadangan, sehingga Jawa Barat tidak terlalu khawatir karena kalau DKI kekurangan kadang mengambil stok dari daerah sekitarnya,” kata dia.

Menurut Ferry, saat ini harga daging sapi di Jawa Barat masih cenderung stabil. Biasanya, harga daging sapi di konsumen gampang terpengaruh dari kelancaran distribusinya. “Di Jawa Barat harus ada pengiriman yang lancar, distribusi yang terarah dan tetap,” kata dia.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat mencatat harga daging sapi di lima pasar tradisional di Kota Bandung masih belum bergerak sepanjang Oktober 2015 ini. Harga daging sapi masih bertahan di kisaran Rp 110 ribu hingga Rp 120 ribu per kilogram.

www.tempo.co.id

BERITA-ARTIKEL LAINNYA