Thursday, August 6, 2015

Sentra Peternakan Rakyat (SPR)

Peternakan rakyat menjadi basis ketersediaan sapi lokal, tapi pengembangan ternak masih belum berkembang. Indonesia memiliki 4,6 juta peternak rakyat, namun jumlah sapinya kurang dari 5 ekor.

Sentra peternakan rakyat (SPR) digagas Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian menjadi instrumen, untuk menata populasi sapi pada peternak rakyat. Selain itu, SPR bisa menunjukkan data populasi ternak di lapangan.

"SPR ini sekaligus bisa memverifikasi ketersediaan sapi lokal dari indukan, bakalan, hingga sapi potong. Kami akan gunakan drone untuk melakukan pemetaan dan pemotretan udara dari satu SPR ke SPR lain. Hasil datanya dihimpun dalam wadah sistem informasi ternak yang bisa diakses semua orang," ungkap Sofyan Sjah, Staf Ahli Dirjen PKH Kementerian Pertanian, ketika ditemui detikFinance, di Kementerian Pertanian beberapa waktu lalu.

SPR akan menjadi wadah menyatukan peternak yang selama ini terpencar, punya ternak dalam jumlah kecil hingga dipasarkan sendiri. "SPR nantinya ada kegiatan sekolah peternakan rakyat. Cikal bakalnya dari kelompok peternak rakyat. Diajak untuk bergabung membentuk suatu sentra di tiap daerah," jelas Sofyan.

Ada 1.000 SPR yang ditargetkan terbentuk hingga 2017 mendatang. Tahun pertama, SPR dikembangkan dari program sarjana membangun desa wirausahawan pendamping (SMD WP), yang telah direkrut Ditjen PKH sejak Januari 2015.

Terdapat 65 lokasi SMD WP yang sudah terbentuk sejak 2014, dan 129 SMD WP di tahun ini. Lalu pada tahun ini, sebanyak 48 SPR akan dibangun di lokasi pembibitan, dan 11 SPR yang telah dimiliki Institut Pertanian Bogor (IPB). Total di tahun pertama akan ada 253 SPR, tahun kedua dicanangkan 400 SPR baru, dan tahun ketiga 347 SPR baru.

"SPR untuk pengelolaan peternakan skala besar. Mengangkat derajat petani lokal. Tiap sentra akan ada setidaknya 1.000 indukan dan tidak lebih dari 100 pejantan. Lalu akan dibentuk dewan peternakan supaya ada struktur peternak dari pusat hingga daerah," ujar Sofyan.

Harapannya, Sofyan menyampaikan SPR bisa menjadi wadah belajar dan transfer Iptek bagi peternak, hingga pembenahan struktur pemasaran ternak.
Sumber : www.detik.com

BERITA-ARTIKEL LAINNYA