Friday, July 1, 2016

Seleksi Sapi Pasundan, Pemerintah Optimalkan Sumber Daya Ternak Lokal

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) terus melakukan optimalisasi pengembangan sumber daya ternak lokal asli Indonesia. Salah satunya yaitu seperti yang telah dilakukan oleh Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang. Optimalisasi pengembangan sumber daya ternak lokal asli Indonesia dilakukan melalui kegiatan seleksi terhadap sapi rancah/pasundan di daerah Sukabumi, Jawa Barat (17/6). Seleksi dilakukan untuk mendapatkan ternak sapi yang berkualitas dan selanjutnya akan dijadikan sapi donor sebagai penghasil embrio di Balai Embrio Ternak.

BET Cipelang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) dibawah Ditjen PKH yang memiliki tugas dan fungsi sebagai balai yang memproduksi embrio dan mentransfer embrio. Salah satu misi BET Cipelang adalah ikut melestarikan plasma nutfah asli Indonesia.

“Kita akan terus optimalkan pengembangan sumber daya ternak lokal, seperti pada sapi rancah dan saya juga sudah tugaskan UPT seperti BET Cipelang untuk terus melakukan seleksi agar dihasilkan ternak lokal yang berkualitas”, ungkap Dr. Ir. Muladno, MSA, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Saat ini donor sapi lokal (plasma nutfah) yang sudah ada di BET Cipelang antara lain Sapi Aceh, Sapi Bali, Sapi Madura dan Sapi Ongole.

Pengembangan Sapi Pasundan selain untuk mempertahankan sumber daya genetik ternak lokal, juga sekaligus sebagai salah satu solusi untuk pemenuhan kebutuhan pangan nasional yaitu daging sapi. Sapi Pasundan merupakan kekayaan ternak lokal yang sebelumnya disebut Sapi Rancah. Sapi ini telah ada sejak lama dan sudah banyak dikenal oleh masyarakat Jawa Barat. Menurut deskripsi pada Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 1051/Kpts/SR.120/10/2014 tanggal 13 Oktober 2014 tentang Penetapan Rumpun Sapi Pasundan disebutkan bahwa Sapi Pasundan dipelihara secara turun-temurun dan telah menyatu dengan kehidupan masyarakat peternak selama ratusan tahun, serta telah dijadikan sebagai sumber modal kehidupan masyarakat. Persebaran Sapi Pasundan masih berada di provinsi Jawa Barat terutama di daerah Ciamis, Purwakarta, Pangandaran, Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Sukabumi, Sumedang, Majalengka, Indramayu, dan Kuningan.

Pengembangan Sapi Pasundan sebagai pemenuhan daging nasional merupakan suatu langkah yang tepat di saat negeri ini terus-menerus mengalami kekurangan daging sapi. Sebagai ternak lokal, tentu Sapi Pasundan memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki oleh sapi lainnya. Sebagai ternak yang sudah lama hidup di lingkungan tropis, Sapi Pasundan lebih mudah beradaptasi terhadap perubahan cuaca. Hal ini tentu akan memberikan dampak positif terhadap sistem kesehatannya karena dengan lebih mudah beradaptasi. Oleh karena itu, kemampuan tubuh ternak lokal ini dalam merespon perubahan cuaca juga akan semakin baik, sehingga ternak tidak mudah stres. Selain itu, keunggulan lain dari Sapi Pasundan adalah memiliki komposisi daging lebih besar dibandingkan dengan tulang yakni 60:40 dengan berat bisa sampai 300-350 kg.

(Ismatullah Salim, S.Pt., Yuliana Susanti, S.Pt., M.Si., - Humas Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan)
Sumber : http://ditjennak.pertanian.go.id/berita-714-seleksi-sapi-pasundan-pemerintah-optimalkan-sumber-daya-ternak-lokal.html

Saturday, May 7, 2016

Kunjungan Wapres ke UPT IB Bali

Denpasar-Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) didampingi Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam kunjungan kerjanya di Bali Jumat (6/5) sempat meninjau Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Inseminasi Buatan atau yang disebut kawin suntik Daerah Provinsi Bali terletak di Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Tabanan.

Balai Inseminasi Buatan Daerah Provinsi Bali mengembangkan Inseminasi Buatan atau sering disebut kawin suntik yang khusus dilakukan terhadap ras sapi Bali. Saat kunjungan ke "pabrik" sapi ini, JK berkesempatan melihat cara menampung mani untuk pembuahan pada sapi betina.

Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali, Putu Sumantra memaparkan pada Wapres, kawin suntik merupakan tehnik memasukkan mani atau semen ke dalam alat reproduksi sapi betina sehat untuk dapat membuahi sel telur. Caranya dengan menggunakan alat inseminasi buatan sehingga ternak betina bisa bunting. Program Inseminasi Buatan mempunyai peran yang sangat strategis dalam usaha meningkatkan kualitas dan kuantitas bibit.

"Kalau dengan cara konvensional, satu pejantan hanya bisa membuahi satu betina. Dengan teknik IB ini bisa membuahi 100 betina sekaligus. Artinya, dengan teknik kawin suntik ini ternak yang dihasilkan bisa lebih banyak," ujar Sumantra.

Selain itu, katanya, kualitasnya pun bisa dijaga karena bisa memilih kualitas semen yang akan membuahi. Pada kesempatan itu diperagakan cara menampung mani/semen dari sapi pejantan untuk kemudian diteliti kualitasnya di dalam laboratorium. "Setelah ditampung, mani tersebut akan kami cek di laboratorium, mani yang kualitasnya bagus akan kami ambil, selanjutnya kami pakai untuk pembuahan," katanya.

Selain UPT kawin suntik, Wapres JK juga melakukan kunjungan kerja ke kelompok petani Simantri 355 Gapoktan Sapta Kerta Buana di Banjar Bangli Kaja, Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Dalam kunjungan ini Wapres JK tertarik dengan produk kotoran sapi yang bisa digunakan memasak.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sapta Kerta Buana, I Wayan Runca Wijaya, 54, menjelaskan saat ini kelompoknya memelihara 23 sapi betina dan satu ekor sapi jantan. Ternak ini per harinya menghasilkan bio urine sebanyak 100 liter, biogas sebanyak dua kompor, dan pupuk organik 100 kilogram.

Dikatakan, biogas dari kotoran sapi merupakan terobosan baru, akan dicoba dimasukan ke tabung gas sehingga bisa digunakan oleh masyarakat banyak. Untuk sementara penggunaannya menggunakan saluran pipa. "Jaringan pipa yang terbatas, makanya baru dua kompor yang bisa digunakan oleh anggota simantri," ujarnya.

JK mengaku sangat tertarik dengan kotoran sapi yang bisa digunakan memasak. Meski tidak sebagus gas LPG tetapi cukup membantu perekonomin masyarakat. JK berjanji menggelontorkan dana sebesar Rp 225 juta untuk Gapoktan Sapta Kerta Buana. "Saya berharap dananya ini digunakan sebaik-baiknya untuk memajukan perekonomian petani," harap JK.

Sumber : Suara Pembaruan

Friday, December 18, 2015

Impor Lidah Akan Rusak Harga Daging Lokal

Asosiasi Sarjana Membangun Desa (SMD) menilai Peraturan Menteri Pertanian tentang impor daging variasi dan daging pangkal lidah yang belum lama terbit akan berdampak menimbulkan persaingan tidak sehat di tingkat pedagang daging sapi lokal.

Ketua Asosiasi SMD Eko Dodi Pramono di Jakarta, Jumat mengatakan, daging jeroan serta kepala terdiri lidah, pipi dan lainnya tidak terpakai di negara asal.

"Di negeri asalnya ini barang buangan yang tidak ada nilainya. Masuk Indonesia bisa dipastikan merusak harga dari komoditas lokal. Kasihan peternak kita," ucapnya.

Sebelumnya dalam dokumen resmi Kementan disebutkan telah terbit Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 58/Permentan/PK.210/11/2015 tentang pemasukan karkas, daging, dan atau olahan ke dalam wilayah negara Republik Indonesia pada 25 November 2015.

Melalui Permentan tersebut maka Kementerian Pertanian (Kementan) akan membuka keran impor daging lidah yang merupakan salah satu variasi daging sapi.

Eko mengharapkan, kalau pun ada impor jenis tersebut, setelah terbitnya Peraturan Menteri Pertanian seyogyanya ada hitungan yang tepat, agar impor tidak melebihi kekurangan dari kebutuhan yang ada.

Indonesia, tambahnya, termasuk yang masih mengonsumsi daging jenis tersebut, sehingga daging itu punya nilai jual di pasaran dalam negeri.

"Harapannya pemerintah bisa lebih bijak. Ada saatnya pemerintah hadir di hadapan peternak di negeri ini. Sehingga lebih memahami dukanya politik harga daging murah yang asal - asalan tanpa tahu nasib yang di bawah," tuturnya.

Sementara itu Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Jawa Tengah Akbar Mahali mengatakan, impor daging variasi tidak masalah, asal tidak menjatuhkan harga di peternak. "Impor itu harus rasional, jangan justru menjatuhkan harga di peternak," tukasnya.

Sumber : Investor Daily

Monday, November 16, 2015

Impor Sapi Hidup dari Australia = 366 JUTA US DOLLAR

Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan bahwa realisasi impor sapi hidup dari Australia sepanjang Januari-Agustus 2015 mencapai 134.112 ton atau senilai US$ 366.667.978. Impor sapi hidup dari Australia yang dilakukan oleh BUMN seperti Perum Bulog tersebut dilakukan guna menciptakan stabilisasi harga dan ketersediaan daging sapi di dalam negeri.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan, impor oleh Perum Bulog dilakukan melalui penugasan dari Menteri BUMN. Importasi dilakukan untuk menjamin kestabilan pasokan dan harga daging sapi. “Kami berpandangan bahwa importasi dilakukan berdasarkan kebutuhan sehingga tetap dilakukan penataan dan pengendalian impor sapi hidup dan daging sapi,” ungkap dia seperti dilansir situs resmi Kementan, Senin (16/11).

Menurut Mentan, sampai saat ini, pemerintah masih membatasi impor sapi hanya dari Australia dan Selandia Baru. Hal ini didasarkan pada kebijakan pemerintah bahwa kedua negara penghasil sapi itu sudah bebas wabah PMK (penyakit mulut dan kuku), sehingga negara penghasil sapi lainnya seperti India belum diizinkan untuk ekspor sapi ke Indonesia.

Namun, pada 2016, Pemerintah Indonesia berencana untuk memperluas kerja sama dengan negara-negara pengimpor sapi selain Australia dan Selandia Baru. Hal ini dilakukan untuk memperluas cakupan perdagangan dan negara asal impor sapi maupun daging sapi sehingga mampu menciptakan harga yang lebih kompetitif. “Selain itu akan memberikan kemudahan bagi pemerintah untuk melakukan stabilisasi pasokan dan harga daging sapi,” ujar Mentan.

BPS mencatat, impor sapi dari Australia sepanjang Januari-Agustus 2015 masih dominan sapi jantan dan bakalan sebanyak 129.075 ton atau senilai US$ 353.589.076. Kemudian impor sapi potong afkir untuk daging sebanyak 4.239 ton atau senilai USS 10.805.571. Impor sapi bibit hanya 798 ton atau senilai USS 2.273.331. Sementara itu, untuk impor daging sapi tanpa tulang (daging beku) dari Australia dan Selandia Baru sampai Agustus ini tercatat 25.461 ton atau senilai US$ 120.086.684.

Sumber : Investor Daily

Saturday, October 31, 2015

Kebutuhan Tinggi, Stock Daging Sapi Menipis di Jawa Barat

TEMPO.CO, Bandung - Kepala Dinas Peternakan Jawa Barat Doddy Firman Nugraha mengaku khawatir harga daging sapi bakal bergejolak kembali karena cadangan sapi di wilayahnya kian menipis. “Perhitungan kami sampai Triwulan III masih ada cadangan, tapi masuk Triwulan IV itu cadangan mulai berkurang sekalipun ada,” kata dia di Bandung, Kamis, 22 Oktober 2015.

Doddy mengatakan, kebutuhan sapi untuk tiap Triwulan di Jawa Barat menembus 100 ribu ekor. Sementara ini belum ada kepastian pasokan sapi memasuki Triwulan IV tahun ini. Cadangan sapi yang ada saat ini berkisar 30 ribu ekor, sisa realisasi pemotongan sapi pada Triwulan III lalu.

Menurut Doddy, perhitungan Kementerian Pertanian untuk stok sapi nasional di daerah sentra sapi masih cukup. “Tapi kemarin disepakati tiap-tiap provinsi (daerah sentra) menghitung ulang stok sapinya karena khawatir ada pengikisan bibit dan indukan untuk menjaga suplay-demand,” kata dia.

Doddy mengatakan, salah satu sumber pasokan sapi yang ditunggu dari rencana importasi sapi yang hingga kini belum ada kejelasannya. Feedloter misalnya, menunggu informasi tersebut untuk memastikan kandang tidak kosong. “Tetap harus ada stok, tapi masih dalam pembahasan. Kami di daerah tidak dilibatkan,” kata dia.

Sumber pasokan konsumsi sapi Jawa Barat, mayoritas kiriman dari daerah-daerah sentra sapi. Doddy mengatakan, pemerintah pusat menjanjikan ada pengaturan distribusi untuk menjaga suplay-demand. “Ini yang kami juga tunggu,” kata Doddy.

Doddy mengatakan, stok sapi dari peternak lokal Jawa Barat hanya cukup menyangga 20 persen kebutuhan sapi setahun. Sementara tabiat peternak lokal hanya fokus membidik momen Hari Raya Kurban. “Mereka tidak mungkin dipaksa memasok pasar konsumsi, keukeuh we untuk Lebaran. Mereka saat ini sedang mencari bibit untuk digemukkan,” kata dia.

Menurut Doddy, Jawa Barat merupakan daerah konsumsi. “Kita daerah konsumen loh, yang sedikit saja ada kekurangan selalu ribut di tingkat nasional,” kata dia.

Doddy mengungkapkan, salah satu imbas ketergantungan sapi dari luar Jawa Barat, diantaranya bocornya daging impor beku ke pasar becek kendati jumlahnya tidak banyak. “Dalam aturanya itu masuk ke pasar modern untuk kebutuhan hotel, restoran,dan kantor, tidak sampai pasar becek. Tapi rembesannya sampai ke sana,” kata dia.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Fery Sofwan Arief mengatakan, kepastian pasokan itu dibutuhkan agar pelaku usaha sedikitnay punya kepastian. “Jangan sampai ini diambil jadi bahan spekulasi oleh pedagang,” kata dia saat dihubungi Tempo, Kamis, 22 Oktober 2015.

Ferry mengatakan, saat ini situsai Jawa Barat diuntungkan dengan adanya kerjasama BUMD DKI dengan perusahaan pemasok sapi di NTT misalnya, untuk memasok sapi yang dibutuhkan ibukota. “Paling tidak DKI sudah punya cadangan, sehingga Jawa Barat tidak terlalu khawatir karena kalau DKI kekurangan kadang mengambil stok dari daerah sekitarnya,” kata dia.

Menurut Ferry, saat ini harga daging sapi di Jawa Barat masih cenderung stabil. Biasanya, harga daging sapi di konsumen gampang terpengaruh dari kelancaran distribusinya. “Di Jawa Barat harus ada pengiriman yang lancar, distribusi yang terarah dan tetap,” kata dia.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat mencatat harga daging sapi di lima pasar tradisional di Kota Bandung masih belum bergerak sepanjang Oktober 2015 ini. Harga daging sapi masih bertahan di kisaran Rp 110 ribu hingga Rp 120 ribu per kilogram.

www.tempo.co.id

Friday, October 30, 2015

Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI)

Forum Logistik Peternakan Indonesia (FLPI) resmi dibentuk, forum non-badan hukum yang diinisiasi oleh Fakultas Peternakan IPB ini mewadahi pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi dan komunitas peternak untuk berbagi ide serta menjajaki kerja dalam mengurai persoalan yang bergubungan dengan efisiensi peternakan.

"Forum ini mucul karena ada komitmen bersama para akademisi mencoba menyelesaikan persoalan yang berhubungan dengan efisiensi peternakan, rantai pasokan (suplay chain), dan keamanan pangan, tingginya harga angkut, termasuk kasus kesejahteraan hewan (animal welfair) yang masih jadi sorotan," kata Dekan Fakultas Peternakan IPB, Prof Luki Abdullah, salah satu pendiri FLPI saat ditemui dalam acara pembentukan FLPI di Bogor, Selasa.

Prof Luki mengatakan, ada empat tujuan pembentukan FLPI yakni memperbaiki keamanan dan keselamatan produk peternakan yang diperdagangkan di khalayak ramai dengan fokus utama pada unggas (poultry) dan ternak (livestocks).

Forum ini mengupayakan cara untuk menurunkan biaya atau harga jual produk unggas dan ternak bagi konsumen. Mengkaji ratai pasokan produk unggas dan tenak guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi distribusi ke konsumen.

"Forum juga memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah terkait aspek logistik peternakan untuk menjamin keamanan dan keselamatan produk unggas dan tenak," kata Prof Luki.

Dikatakannya, keanggotaan forum ini terdiri dari unsur pemerintahan, yakni Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perhubungan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Sedangkan dari unsur bisnis terdapat sejumlah perusahaan skala kecil, menengah hingga multinasional seperti PT Charoen Pokphand Tbk, PT Sierad Produce Tbk, PT Lembu Jantan Perkasa, PT Berdikari (Persero). Dari unsur perguruan tinggi selain IPB ada Universitas Trisakti.

"Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh forum ini adalah penelitian. Dalam forum bisnis ini, pelaku usaha dan perguruan tinggi dapat berkolaborasi melakukan riset terkait logistik peternakan ini. Kita harapkan Kementerian Riset Dikti menjadi bagian karena merupakan mitra dari perguruan tinggi," katanya.

Luki mengatakan, kegiatan yang dilakukan anggota FLPI mengadakan pertemuan setidaknya dua kali setahun untuk membahas dan mencari solusi sehubungan dengan logistik peternakan di Indonesia sesuai dengan misi dan tujuan FLPI yang ditetapkan bersama.

Menurut Luki, pentingnya pembentukan Forum Logistik Peternakan dalam rangka pemenuhan sumber protein hewani yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) dengan harga terjangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia. Keterbatasan bidang logistik peternakan di tanah air ini menjadi masalah utama mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan, sehingga menyebabkan tingginya harga produk-produk tersebut.

"IPB melalui Animal Logistic Indonesia - Netherland menginisiasi forum ini. Hasil dari kegiatan ini salah satunya penyelenggaraan pendidikan pascasarjana logistik peternakan, dan tempat studi ini akan menjadi penelitian tentang logistik ternak di Indonesia yang dapat dimanfaatkan oleh para pelaku usaha," katanya.

www.antara.com

Saturday, October 24, 2015

Genjot Produksi Sapi Lokal 1.000 Sentra Peternakan Rakyat Disiapkan

JAKARTA - Kementerian Pertanian akan membangun Sentra Peternakan Rakyat. Program ini melibatkan peternak sapi dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Keberadaan Sentra Peternakan nantinya diharapkan bisa meningkatkan produksi dan harga jual sapi hasil peternak lokal.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Muladno mengatakan, rencana membangun Sentra Peternakan akan berlangsung hingga empat tahun mendatang. Saat ini, kata Muladno, telah berdiri 221 Sentra Peternakan di 11 lokasi. "Target berdiri 1.000 sentra hingga 2017," kata Muladno di Jakarta, Kamis (6/8).

Di setiap daerah yang terdiri atas satu-dua desa, kata Muladno, direncanakan berdiri satu sentra dengan jumlah ternak indukan sapi sebanyak 1.000 ekor. Minimal satu dokter hewan bertugas di setiap sentra.

Muladno mengatakan, satu sentra diharapkan bisa melibatkan 500 peternak yang setiap peternaknya diperkirakan memiliki dua ekor indukan sapi. Keberadaan sentra ini, menurut Muladno, tidak sekadar mengumpulkan para peternak sapi lokal.

Namun, kata Muladno, lebih dari itu para peternak juga akan diajarkan mengelola bisnis selain peternakan sapi yang secara teknis akan diajarkan mahasiswa IPB. Menurutnya, para peternak perlu juga diajarkan bisnis karena selama ini perdagangan sapi kerap merugikan peternak.

"Kita nantinya tidak lagi jual-beli (dengan model) seperti saat ini, dengan cara-cara tradisional, yang merugikan petani," ujar Muladno. Para peternak di sentra, Muladno melanjutkan, akan mendirikan perusahaan kolektif berbasis koperasi dan memilih sembilan orang untuk jadi dewan komisaris.

"Dengan demikian, bisa satu harga dan satu pintu dalam bisnis," ujar Muladno. Selama ini, kata Muladno, sapi kerap dibeli dari pedagang profesional yang sudah mapan dalam bisnis sapi. Akibat dari itu, menurut Muladno, peternak sapi lokal kerap dirugikan.

Dengan keberadaan sentra, kata Muladno, diharapkan produksi dan populasi sapi indukan meningkat. "Impor bisa diturunkan," ujar Muladno. Selain membangun sentra peternakan, kata Muladno, kementerian juga sedang menata asosiasi dan perhimpunan bidang peternakan.

Di sisi lain, Kepala Pusat Karantina Hewan dan Sumber Daya Hayati Hewani di Kementerian Pertanian, Sujarwanto mengatakan, pemerintah sedang menyiapkan daerah atau pulau khusus untuk menampung sapi impor dari negara yang belum dinyatakan bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK).

Pemerintah berencana membuka impor sapi dari negara lain di luar Australia. Selama ini, Indonesia selalu impor sapi dari Australia. Padahal, Organisasi Kesehatan Hewan Dunia menyatakan ada 31 negara lain yang populasi sapinya juga bebas dari PMK dan sapi gila.

“Dari negara-negara Amerika Latin populasi sapinya besar sekali. Sapi di Brasil ada 250 juta ekor. Australia saja hanya 17 juta ekor, India malah 300 juta ekor. Afrika juga banyak sapinya, tapi belum kita jajaki,” kata Sujarwanto.

Sumber : Sinar Harapan

BERITA-ARTIKEL LAINNYA